Minggu lalu sudah dibahas cara meningkatkan angka oktan bensin Premium
supaya setara Pertamax. Secara teori dan hitungan rumus memang dianggap
mudah. Tapi, tetap harus uji praktik tentang kebenaran teori itu. Apakah
benar antara teori dan praktik.
Proyek percobaan jajal dulu di Honda Supra X 125 milik PT Trimentari Niaga Jaya, produsen CDI Cibinong atau BRT itu. Spek motor
masih standar dan hanya ganti knalpot. Sekalian pinjam juga dynotest
untuk mengukur power mesin dan AFR Meter guna mengetahui perbandingan
bahan bakar dan udara.
Berikut hasilnya. TENAGA PREMIUM VS
PREMIUM + ETANOL Sebagai pembanding pertama dites dulu Supra X 125
[Photo]diisi Premium. Tenaga puncak didapat 8,92 dk pada 7.000 rpm.
Kondisi atau angka ini digunakan sebagai patokan dasar.
Kemudian
dilanjut tes Premium campur etanol. Perbandingannya 90% : 10%. Artinya
90% Premium dan 10% etanol. Hasilnya, tenaga mesin jadi lebih besar.
Yaitu, 9,06 dk pada 6.900 rpm.
Kenaikannya hanya sedikit sekali
0,14. Tapi, meski sedikit namun ruang bakar lebih bersih. Dasarnya bisa
lihat dari tes AFR Meter.
TES AFR PREMIUM VS PREMIUM + ETANOL
[Photo]Untuk mengetahui bensin terbakar tuntas atau tidak bisa lihat
tabel AFR Meter. Dari grafik 2 terlihat (garis biru) kalau masih
menggunakan Premium di bawah garis merah. Itu menandakan masih kaya
bensin.
Artinya masih di bawah garis standar (merah
putus-putus). Karakternya kalau menggunakan Premium murni pembakaran
kurang tuntas. Masih terdapat kerak di ruang bakar. Beda setelah
dicampur etanol 10%. Garis merah sejajar garis merah putus-putus.
Kondisinya ideal dan minim kerak.
PREMIUM + ETANOL VS PERTAMAX
Sebagai bahan pembanding dites juga Premium + etanol lawan Pertamax dan
Pertamax Plus. Hasilnya Premium + Etanol 9,06 dk, Pertamax 8,86 dan
Pertamax Plus 8,94 dk. Ini juga sebagai indikator kalau Premium + etanol
tetap paling bertenaga alias tinggi.
HANYA 10 PERSEN
Perlu diperhatikan dan harus diwaspadai. Dalam mencampur, jangan
kelewat banyak etanol. Paling banyak dari campuran hanya 10% etanol.
“Kalau lebih besar dari itu, tidak akan bagus. Ruang bakar kekeringan
lantaran bensin jadi mudah menguap,” pasti H. Tjejep Sudirman, manajer
depo dan instalasi, PT Elnusa Petrofin di Plumpang, Jakarta Utara.
Juga
dalam mencampur Premium dengan etanol harus cepat digunakan. Jangan
lama-lama dibiarkan. Itu karena etanol mudah menguap lantaran mudah
mengikat oksigen. Juga dikhawatirkan bensin jadi malah mengandung
endapan air.
100% ETANOL MALAH JELEK Em-Plus juga penasaran.
Bagaimana jika menggunakan 100% etanol murni. Katanya punya angka oktan
118. Namun apa yang terjadi. Mesin tidak kuat digeber abis. Knalpot nembak seperti kekeringan bensin alias kebanyakan udara. Ini bukti kalau etanol mudah mengikat udara.
Tenaga maksimal hanya 7 dk. Mesin tidak sanggup digas full. Ini bisa dijadikan pelajaran. Jangan coba-coba menggunakan 100% etnol kalau mesin tidak mau jebol.
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Jumat, 29 Agustus 2014
Bio Ethanol Buah-buahan, Alternatif Bahan Bakar Murah
Probolinggo
- Upaya mengembangkan bahan bakar alternatif ditengah krisis energi
yang terjadi saat ini terus dilakukan. Sebuah lembaga pengembangan usaha
mandiri di Probolinggo, Jawa Timur mencoba memanfaatkan buah - buahan
dan tetes tebu untuk dijadikan bio ethanol yang bermanfaat sebagai
pengganti minyak tanah dan bahan bakar kendaraan bermotor.
Produksi bio ethanol yang dilakukan lembaga pengembangan usaha mandiri di Ketapan kota Probolinggo ini dilakukan dengan cukup sederhana. Bahan baku yang digunakan adalah buah - buahan yang mudah dicari dan banyak terdapat disekitar kita, seperti pepaya, singkong, mira, tetes tebu maupun buah - buahan manis lainnya.
Sari buah yang didapat dari bahan baku itu awalnya dikupas dan diperas, lalu diprementasi dengan campuran ragi dalam sebuah tabung pemanas. Uap dari hasil pemanasan itu kemudian disalurkan melalui pipa spiral dalam tabung destilasi. Proses kimia dalam tabung destilasi dalam waktu beberapa jam sudah dapat menghasilkan cairan berupa bio ethanol dengan kadar 5 persen hingga 80 persen.
Bio ethanol berkadar 40 persen bisa menjadi bahan bakar alternatif pengganti minyak tanah sedangkan bahan bio ethanol berkadar 80 persen dapat digunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermotor setara premium maupun spiritus.
Penggunaan bio ethanol sudah teruji lebih hemat karena bisa menyalah non stop selama 3 jam dengan kalori setara elpiji serta aman dalam penggunaannya karena tidak mengandung gas. (Tim Liputan/Dv).
Produksi bio ethanol yang dilakukan lembaga pengembangan usaha mandiri di Ketapan kota Probolinggo ini dilakukan dengan cukup sederhana. Bahan baku yang digunakan adalah buah - buahan yang mudah dicari dan banyak terdapat disekitar kita, seperti pepaya, singkong, mira, tetes tebu maupun buah - buahan manis lainnya.
Sari buah yang didapat dari bahan baku itu awalnya dikupas dan diperas, lalu diprementasi dengan campuran ragi dalam sebuah tabung pemanas. Uap dari hasil pemanasan itu kemudian disalurkan melalui pipa spiral dalam tabung destilasi. Proses kimia dalam tabung destilasi dalam waktu beberapa jam sudah dapat menghasilkan cairan berupa bio ethanol dengan kadar 5 persen hingga 80 persen.
Bio ethanol berkadar 40 persen bisa menjadi bahan bakar alternatif pengganti minyak tanah sedangkan bahan bio ethanol berkadar 80 persen dapat digunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermotor setara premium maupun spiritus.
Penggunaan bio ethanol sudah teruji lebih hemat karena bisa menyalah non stop selama 3 jam dengan kalori setara elpiji serta aman dalam penggunaannya karena tidak mengandung gas. (Tim Liputan/Dv).
Mengubah Sampah Busuk Jadi Bioetanol
Liputan6.com, Karanganyar: Tumpukan sampah lazim ditemukan di
pasar-pasar tradisional. Sampah seperti sayur, buah hingga cangkang
kelapa, biasanya memang tidak diambil pemulung hingga kerap menumpuk.
Mengganggu pemandangan, berbau busuk, dan bisa menjadi sumber penyakit.
Prihatin dengan kondisi ini, warga Doplang, Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, berupaya memanfaatkannya dengan mengubah menjadi bahan bakar nabati. Mereka melakukannya dengan cara sederhana. Sampah busuk harus dihancurkan lebih dulu agar mudah dibusukkan dengan bakteri pembusuk. Air dari rajangan sampah kemudian difermentasi. Saat disuling, zat-zat yang dibutuhkan menguap masuk ke dalam pendingin untuk diubah menjadi bioetanol.
Hasil bioetanol dapat langsung dimanfaatkan sebagai pengganti minyak tanah. Bahkan, bioetanol memeiliki kelebihan lebih hemat, lebih cepat panas dan tidak mengeluarkan asap sehingga lebih ramah lingkungan.
Bioetanol sampah juga bisa dimanfaatkan sebagai pengganti bensin. Namun harus dilakukan dua kali penyulingan sehingga kadar bioetanolnya menjadi lebih tinggi, yaitu 99 hingga 100 persen. Harganya juga lebih murah, hanya Rp 3.000 per liter.(ANS/Wiwik Susilo)
Prihatin dengan kondisi ini, warga Doplang, Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, berupaya memanfaatkannya dengan mengubah menjadi bahan bakar nabati. Mereka melakukannya dengan cara sederhana. Sampah busuk harus dihancurkan lebih dulu agar mudah dibusukkan dengan bakteri pembusuk. Air dari rajangan sampah kemudian difermentasi. Saat disuling, zat-zat yang dibutuhkan menguap masuk ke dalam pendingin untuk diubah menjadi bioetanol.
Hasil bioetanol dapat langsung dimanfaatkan sebagai pengganti minyak tanah. Bahkan, bioetanol memeiliki kelebihan lebih hemat, lebih cepat panas dan tidak mengeluarkan asap sehingga lebih ramah lingkungan.
Bioetanol sampah juga bisa dimanfaatkan sebagai pengganti bensin. Namun harus dilakukan dua kali penyulingan sehingga kadar bioetanolnya menjadi lebih tinggi, yaitu 99 hingga 100 persen. Harganya juga lebih murah, hanya Rp 3.000 per liter.(ANS/Wiwik Susilo)
Industri Bioetanol Dibangun di Mojokerto
Pabrik tersebut akan mengolah 100.000 ton molasses atau tetes dijadikan bioetanol
JAKARTA
– Pabrik bioetanol akan dibangun di Mojokerto. Kini PT Perkebunan
Nusantara (PTPN) X akan mempercepat pembangunan pabrik yang ditargetkan
selesai tahun ini. Proyek ini merupakan hasil kerja sama Indonesia dan
Jepang melalui The New Energy and Industrial Technology Development
Organization (NEDO). Bioetanol yang diproduksi itu merupakan investasi
turunan dari produksi gula.
Direktur Utama PTPN X
Subiyono menuturkan, pabrik bioetanol baru itu akan mulai berproduksi
pada awal 2013. Dengan beroperasinya pabrik ini, selain bisa memproduksi
gula, turunan gula bisa diolah menjadi bioetanol. Pabrik tersebut akan
mengolah 100.000 ton dari 250.000 ton molasses atau tetes untuk
dijadikan bioetanol.
Pabrik yang dibangun
terpadu dengan Pabrik Gula Gempolkerep Mojokerto ini, akan mengolah
turunan gula ini untuk memproduksi bioetanol sebagai bahan bakar
kendaraan bermotor dengan kapasitas 30.000 kiloliter (KL) per tahun
alias 100 kiloliter per hari
Saat ini,
rencana pembangunan pabrik baru selesai pada tahap meyakinkan masyarakat
yang awalnya menentang. "Izin ke kepala desa, dan instansi terkait
sudah semua. Kita juga sudah meyakinkan masyarakat sekitar, bahwa pabrik
ini ramah lingkungan dan tidak akan mengganggu. Bahkan petani tebu akan
semakin sejahtera dengan proyek bioetanol ini," ujar Sekretaris
Perusahaan PTPN X, Djoko Santoso, Minggu (15/1).
Di
bisnis bioetanol ini, PTPN X menyiapkan Rp 285 miliar bagi pembangunan
pabrik. Sumber dananya dari hibah Jepang senilai Rp 160 miliar dalam
bentuk mesin utama dalam G to G, serta kas internal PTPN X. Fokus utama
untuk pengolahan limbah senilai Rp 65 miliar, sehingga tidak ada limbah
yang berbahaya.
Menurut Subiyono, PTPN X
menghasilkan 200.000 ton tetes. Karena belum punya pabrik, manajemen
menjual tetes itu ke perusahaan lain sebagai bahan baku penyedap masakan
dan bioetanol.
Untuk memuluskan bisnisnya tahun
ini, perusahaan plat merah itu telah menganggarkan belanja modal
sebesar Rp 835 miliar. Disamping akan digunakan untuk membangun pabrik
bioetanol, juga digunakan untuk membentuk anak usaha patungan bersama
PTPNXIV, yang akan mengelola tiga pabrik gula di Takalar, Bone, dan
Camming di Sulawesi Selatan.
Sebagai catatan,
tahun lalu PTPN X meraih pendapatan Rp 2,2 triliun dari penjualan gula
putih sebesar 93%, tembakau 3%, dan rumah sakit 4%. Kto
Selasa, 26 Agustus 2014
PRODUKSI ETANOL DARI LIMBAH BUAH-BUAHAN
PRODUKSI ETANOL DARI LIMBAH BUAH-BUAHAN
Yeast merupakan salah satu kelompok mikroorganisme yang banyak
dimanfaatkan dalam bidang industri. Kemampuannya dalam memfermentasi
gula menjadi etanol menjadi karakter fisiologis yang khas yang telah
lama diaplikasikan. Penggunaan bahan baku yang murah dan mudah didapat
menjadi sasaran penelitian untuk mengembangkan etanol dalam skala
industri. Salah satu bahan baku tersebut adalah limbah pertanian yang
dalam praktikum ini digunakan kulit buah pepaya dan nanas. Kulit buah
pepaya dan nanas masih mengandung gula yang akan dipakai oleh yeast
sebagai nutrisi utama dalam produksi etanol.Tujuan: Mengetahui limbah buah-buahan (pepaya dan nanas) yang terbaik sebagai bahan baku produksi etanol.
Alat: Timbangan, bunsen, erlenmeyer, vorteks, pipet ukur, tabung reaksi, cawan petri, kaca obyek, kaca penutup, mikroskop, pipet tetes.
Bahan: SAF instan, media Yeast Malt Agar (YMA), akuades steril, alkohol 70%.
Cara Kerja:
- Kulit buah papaya dan nanas dibersihkan menggunakan air mengalir. Kemudian dipotong kecil-kecil dan diblender sampai halus.
- Seratus gram kulit buah yang telah dihaluskan ditimbang dan ditambahkan air akuades steril.
- Campuran tersebut dipasteurisasi dalam waterbath selama 15 menit pada suhu 65 oC.
- Setelah dingin, inokulum yeast yang telah disiapkan ditambahkan sebanyak 2 x 106 sel/ml.
- Inkubasi dilakukan dengan cara dishkare pada suhu 30oC selama 24 jam.
- Parameter yang diamati adalah perubahan pH awal dan akhir fermentasi.
- Setelah inkubasi selesai, diambil bagian cair sebanyak 100 ml dan diukur kadar etanolnya menggunakan destilator sederhana.
- Kadar etanol yang terukur dicatat dan dilakukan analisis.
Membuat ‘Bensin’ Sendiri Yuk…..!!!!
Subsidi BBM, terutama untuk bensin (Premium) sudah sangat tinggi
(mungkin karena banyak juga yang diselewngkan ya….???). Pemerintah untuk
kesekian kalinya berencana menaikkan harga bensin lagi. Padahal bensin
sudah menjadi seperti ‘kebutuhan hajat hidup orang banyak’. Kalau bensin
naik, hampir dipastikan biaya hidup akan naik pesat. Tapi, jangan
keburu panik, dengan sedikit usaha Anda bisa juga kok membuat’bensin’
sendiri.
‘Bensin’ yang saya maksud di sini adalah bioetanol yang bisa dicampurkan ke dalam bensin dengan rasio pencampuran 1:9 atau 2:8. Bioetanol ini bisa dibuat sendiri. Proses pembuatannya relatif mudah dan bisa menggunakan bahan-bahan yang tersedia di sekitar kita. Banyak bahan yang bisa dipakai untuk membuat bioetanol, tetapi saya lebih suka menyarankan untuk membuat dari bahan-bahan sisa alias limbah.
Download panduannya di link ini: Membuat Bioetanol Sendiri.
Artikel lain tentang bioetanol: Bioetanol.
Bahan yang bisa digunakan untuk membuat bioetanol adalah bahan yang mengandung gula alias manis. Prinsipnya bahan yang manis bisa diolah menjadi bioetanol. Bahan-bahan itu seperti; gula pasir, gula jawa, tetes tebu, nira kelapa, nira aren, sisa minuman, sisa buah-buahan yang manis, dan bahan-bahan lainnya.
Proses pembuatan bioetanol dari gula pasir, tetes, atau buah-buahan bisa dilihat di posting lain: gula pasir, tetes tebu, buah-buahan yang manis.
Peralatan yang dibutuhkan:
– fermentor sederhana (bisa dibuat dari galon atau drum plastik).
– distilator
– kompor/pemanas
Bahan-bahan:
– Urea dan NPK
– yeas atau ragi roti
– bahan baku utama (sisa minuman, sisa buah-buah, atau yang lainnya).
Caranya sederhana.
1. Siapkan fermentor. Bisa dibuat dari galon atau dari drum plastik ukuran 50-100L.
2. Masukkan sisa minuman, sisa buah-buahan, gula pasir, tetes, atau bahan manis lainnya ke dalam fermentor.
3. Tambahkan Urea dan NPK secukupnya.
4. Tambahkan ragi roti ke dalam fermentor secukupnya.
5. Aduk hingga tercampur merata, dan biarkan sampai fermentasi berjalan sempurna.
Pada prakteknya bisa dibuat sederhana. Misalkan letakkan fermentor di dekat dapur (tapi hati-hati, karena bisa tercium baunya). Jadi setiap ada sisa minuman langsung dituang ke dalam fermentor. Penambahan urea, ragi, atau yeast bisa ditambahakan sedikit demi sedikit.

Setelah fermentor penuh, tutup fermentor dan berikan selang untuk aerasi. Silahkan lihat di bagian fermentor bioetanol.
Setelah fermentasi berjalan sempurna yang ditandai dengan bau etanol yang menyengat. Cairan fermentasi ini bisa didistilasi dengan menggunakan distilator kecil atau mini distilator. Silahkan baca di posting ini untuk melakukan distilasi etanol.

Distilasi etanol bisa menghasilkan etanol dengan kadar 95-98% maksimal. Untuk memastikannya anda perlu mengukur kadar bioetanol ini dengan menggunakan etanol meter. Cara mengukur kadar bioetanol silahkan baca di link ini.

Bioetanol dengan kadar kurang dari 99% belum bisa dicampur dengan bensin. Karena kandungan airnya bisa merusak mesin. Untuk menghilangkan sisa air dilakukan dehidrasi. Caranya bisa menggunakan kapur tohor atau kapur bangunan yang banyak dijual di toko-toko material/bahan bangunan. Caranya, tambahkan kapur tohor ke dalam bioetanol 95%. Biarkan kapurnya bereaksi dan didiamkan sampai mengendap. Bioetanol distilasi sekali lagi dengan menggunakan mini distilator. Cek atau ukur kadar bioetanolnya lagi dengan menggunakan etanol meter. Jika sudah mendekati 100% sudah bisa digunakan untuk bahan bakar.
Saya pernah mencoba menggunakan 100% etanol pada motor saya, dan ternyata bisa jalan tanpa ada masalah. Campuran bioetanol yang dianjurkan adalah 1 (etanol): 9 (bensin) atau 2 (etanol): 8 (bensin).
Selamat membuat ‘bensin’ sendiri dan ayo selamatkan bumi kita tercinta ini.
‘Bensin’ yang saya maksud di sini adalah bioetanol yang bisa dicampurkan ke dalam bensin dengan rasio pencampuran 1:9 atau 2:8. Bioetanol ini bisa dibuat sendiri. Proses pembuatannya relatif mudah dan bisa menggunakan bahan-bahan yang tersedia di sekitar kita. Banyak bahan yang bisa dipakai untuk membuat bioetanol, tetapi saya lebih suka menyarankan untuk membuat dari bahan-bahan sisa alias limbah.
Download panduannya di link ini: Membuat Bioetanol Sendiri.
Artikel lain tentang bioetanol: Bioetanol.
Bahan yang bisa digunakan untuk membuat bioetanol adalah bahan yang mengandung gula alias manis. Prinsipnya bahan yang manis bisa diolah menjadi bioetanol. Bahan-bahan itu seperti; gula pasir, gula jawa, tetes tebu, nira kelapa, nira aren, sisa minuman, sisa buah-buahan yang manis, dan bahan-bahan lainnya.
Proses pembuatan bioetanol dari gula pasir, tetes, atau buah-buahan bisa dilihat di posting lain: gula pasir, tetes tebu, buah-buahan yang manis.
Peralatan yang dibutuhkan:
– fermentor sederhana (bisa dibuat dari galon atau drum plastik).
– distilator
– kompor/pemanas
Bahan-bahan:
– Urea dan NPK
– yeas atau ragi roti
– bahan baku utama (sisa minuman, sisa buah-buah, atau yang lainnya).
Caranya sederhana.
1. Siapkan fermentor. Bisa dibuat dari galon atau dari drum plastik ukuran 50-100L.
2. Masukkan sisa minuman, sisa buah-buahan, gula pasir, tetes, atau bahan manis lainnya ke dalam fermentor.
3. Tambahkan Urea dan NPK secukupnya.
4. Tambahkan ragi roti ke dalam fermentor secukupnya.
5. Aduk hingga tercampur merata, dan biarkan sampai fermentasi berjalan sempurna.
Pada prakteknya bisa dibuat sederhana. Misalkan letakkan fermentor di dekat dapur (tapi hati-hati, karena bisa tercium baunya). Jadi setiap ada sisa minuman langsung dituang ke dalam fermentor. Penambahan urea, ragi, atau yeast bisa ditambahakan sedikit demi sedikit.
Setelah fermentor penuh, tutup fermentor dan berikan selang untuk aerasi. Silahkan lihat di bagian fermentor bioetanol.
Setelah fermentasi berjalan sempurna yang ditandai dengan bau etanol yang menyengat. Cairan fermentasi ini bisa didistilasi dengan menggunakan distilator kecil atau mini distilator. Silahkan baca di posting ini untuk melakukan distilasi etanol.
Distilasi etanol bisa menghasilkan etanol dengan kadar 95-98% maksimal. Untuk memastikannya anda perlu mengukur kadar bioetanol ini dengan menggunakan etanol meter. Cara mengukur kadar bioetanol silahkan baca di link ini.
Bioetanol dengan kadar kurang dari 99% belum bisa dicampur dengan bensin. Karena kandungan airnya bisa merusak mesin. Untuk menghilangkan sisa air dilakukan dehidrasi. Caranya bisa menggunakan kapur tohor atau kapur bangunan yang banyak dijual di toko-toko material/bahan bangunan. Caranya, tambahkan kapur tohor ke dalam bioetanol 95%. Biarkan kapurnya bereaksi dan didiamkan sampai mengendap. Bioetanol distilasi sekali lagi dengan menggunakan mini distilator. Cek atau ukur kadar bioetanolnya lagi dengan menggunakan etanol meter. Jika sudah mendekati 100% sudah bisa digunakan untuk bahan bakar.
Saya pernah mencoba menggunakan 100% etanol pada motor saya, dan ternyata bisa jalan tanpa ada masalah. Campuran bioetanol yang dianjurkan adalah 1 (etanol): 9 (bensin) atau 2 (etanol): 8 (bensin).
Selamat membuat ‘bensin’ sendiri dan ayo selamatkan bumi kita tercinta ini.
MEMBUAT BIOETANOL DARI LIMBAH BUAH-BUAHAN
MEMBUAT BIOETANOL DARI LIMBAH BUAH-BUAHAN
Buah pepaya yang sudah tidak layak jual bisa dimanfaatkan untuk bahan baku bioetanol
Buah-buahan yang mengandung kadar gula tinggi merupakan bahan yang potensial untuk bahan baku bioetanol. Buah yang dipakai bukan buah yang masih bagus dan segar, tetapi buah-buah yang sudah tidak layak jual atau hampir busuk. Daripada buah-buah ini dibuang tanpa harga, akan lebih baik jika diolah menjadi bioethanol.
Potensi Buah Afkir untuk Produksi Bioetanol
Potensi buah ini lumayan besar, terutama disentra-sentra perkebunan buah. Misalnya saja di sentra buah mangga, salak, pepaya, atau nanas. Pada saat puncak musim buah, produksi sangat melimpah. Harga buah turun drastis dan banyak buah-buah afkir yang tidak layak jual.Kebun pepaya yang sangat luas di kaki gunung Seulawah
Sebagai contoh kebuh buah pepaya yang ada di kaki gunung Seulawah aceh. Ada ratusan hektar kebun pepaya. Buah-buah yang busuk luar biasa sekali jumlahnya. Saya tidak dapat informasi yang tepat produktivitas kebun ini. Setiap minggu buah pepaya dipetik oleh pedagang buah, sekali petik satu colt. Satu hektar bisa sekali atau dua kali petik.
Buah yang tidak layak jual cukup banyak. Perkiraan saya ada sekitar 5-10% buah yang tidak layak jual. Jadi jumlahnya cukup melimpah ruah, apalagi di puncak musim panen.
Kadar gula buah pepaya belum dianalisis di laboratorium, jadi blum tahu berapa kadar yang tepat. Buah pepaya yang sudah masak rasanya manis sekali. Perkiraan saya bisa sampai 10% kadar gulanya. Kadar yang cukup tinggi untuk dibuat ethanol.
Hitung-hitungan teoritis di atas kertas. Andaikan seluruh gula di dalam pepaya bisa diubah menjadi etanol, maka etanol yang bisa diproduksi sekitar 5.1%. Satu ton buah afkir, teoritisnya, bisa menghasilkan 51kg ethanol absolute. Realitasnya efisiensinya tidak pernah 100%. Mungkin hanya 85-90% yang bisa diambil. Demikian juga kadar etanolnya mungkin 60%, 80%, atau 95%. Meskipun begitu volumenya cukup besar, bisa sampai 48 liter dan nilainya bisa Rp 576.000 per ton buah afkir.
Nilai ini akan bertambah besar jika limbah bioetanolnya diolah kembali menjadi pupuk organik cair (POC).
Peralatan yang dibutuhkan
Peralatan yang dibutuhkan sangatlah sederhana dan mHiudah diperoleh di sekitar kebun. Alat-alat utana yang dipakai antara lain.1. Mesin parut untuk menghancurkan buah. Kalau mesin parut susah didapat, bisa juga pakai manual dengan cara ditumbuk.
2. Drum atau bak untuk menampung bahan baku.
3. Drum atau bak fermentasi
4. Timbangan kecil. Bisa pakai timbangan kue.
5. Ethanol meter. Kalau alat ini perlu dibeli di kota. Biasanya ada di toko-toko yang menjual alat-alat laboratorium.
6. Distilator. Alat ini harus dipesan ke produsennya. Sesuaikan kapasitas distilator dengan kapasitas produksi ethanolnya.
7. Peralatan pendukunh lainnya, seperti: ember, gayung, parang, dan lain-lain.
Bahan-bahan
Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk produksi bioethanol dari limbah buah-buahan antara lain seperti disebutksn di bawah ini.1. Limbah buah, jelas ini adalah bahan baku utamanya.
2. Ragi roti. Bisa pakai ragi roti yang banyak dijual di toko yang menjual bahan baku kue/roti.
3. Urea dan NPK (15-15-15), untuk nutrisi tambahan ragi.
Resep Bahan
Idealnya sebelum difermentasi sari buah perlu ditest terlebih dahulu kandungan gulanya. Tetapi kalau tidak mau repot bisa dikira-kira. Resep dasarnya adalah sebagai berikut:Ragi = 0.5% x kadar gula x volume sari buah
Urea = 0.5% x kadar gula x volume sari buah
NPK = 0.2% x kadar gula x volume sari buah
Sebagai contoh kadar gula sari buah adalah 10%, maka untuk setiap 1 drum volume 200 liter penambahan bahan-bahannya adalah:
– 100 gr Ragi
– 100 gr Urea
– 40 gr NPK
Cara Pembuatan
1. Buah dihancurkan terlebih dahulu dengan menngunakan parutan atau ditumbuk.Menghancurkan buah pepaya dengan cara ditumbuk
2. Masukkan Urea & NPK ke dalam drum dan dicampur hingga merata.
Just buah pepaya yang siap difermentasi
3. Encerkan yeast dengan air hangat-hangat kuku, diaduk sampai muncul buihnya.
4. Masukkan ragi ke dalam sari buah dan diaduk sampai tercampir merata.
Campuran ragi roti dan NPK harus diaduk sampai tercampur merata.
6. Sari buah difermentasi minimal selama 72 jam atau 3 hari, sampai tidak muncul buihnya lagi.
Sari buah yang sedang difermentasi, khamir tampak aktif memfermentasi sari buah.
7. Sari buah diperas dan diambil airnya.
Pemerasan
8. Air perasan ini kemudian didistilasi untuk mendapatkan ethanol.
Proses distilasi etanol
Limbah sisa distilasi bisa diolah kembali menjadi POC (Pupuk Organik Cair). Pupuk organik yang dihasilkan bisa dimanfaatkan untuk kebun sendiri atau dijual ke petani/pekebun lain.
***
Jangan buang buah-buah yang tidak layak jual dan sdh mulai membusuk. Buah-buah tersebut bisa diolah menjadi etanol yang nilainya lumayan besar. Tunggu apa lagi.
(Medan, June 14, 2010; ditulis dlm perjalanan Aceh-Medan)
MEMBUAT BIOETANOL DARI LIMBAH BUAH-BUAHAN
MEMBUAT BIOETANOL DARI LIMBAH BUAH-BUAHAN
I. Tujuan
- Untuk memperoleh alkohol dari hasil fermentasi dari limbah pepaya
II. Dasar Teori
Buah
pepaya yang sudah tidak layak jual bisa dimanfaatkan untuk bahan baku bioetano. Buah-buahan yang mengandung kadar
gula tinggi merupakan bahan yang potensial untuk bahan baku bioetanol. Buah
yang dipakai bukan buah yang masih bagus dan segar, tetapi buah-buah yang sudah
tidak layak jual atau hampir busuk. Daripada buah-buah ini dibuang tanpa harga,
akan lebih baik jika diolah menjadi bioethanol .
Kadar gula buah pepaya belum
dianalisis di laboratorium, jadi belum diketahui berapa kadar yang tepat. Buah pepaya
yang sudah masak rasanya manis diperkirakan bisa sampai 10% kadar gulanya. Kadar yang cukup tinggi untuk dibuat ethanol.
Misalnya seluruh gula di dalam
pepaya
bisa diubah menjadi etanol, maka etanol yang bisa diproduksi sekitar
5.1%. Realitasnya efisiensinya tidak pernah 100%. Mungkin hanya 85-90%
yang bisa
diambil. Demikian juga kadar etanolnya mungkin 60%, 80%, atau 95%. Nilai
ini akan bertambah besar jika
limbah bioetanolnya diolah kembali menjadi pupuk organik cair (POC)
.
III. Alat Dan Bahan
Alat
1. Blender
2. Destilator sederhana
2. Destilator sederhana
3. Botol
4. Kain saring
5. Baskom
Bahan
1. Pepaya
2. Ragi roti
IV. Cara Kerja
1. Buah dihancurkan terlebih dahulu dengan menngunakan blender
2. Dimasukkan ragi ke pepaya yang sudah dihancurkan dan diaduk sampai merata.
3. Fermentasi pepaya didiamkan selama 72 jam atau 3 hari, sampai tidak muncul buihnya lagi.
1. Buah dihancurkan terlebih dahulu dengan menngunakan blender
2. Dimasukkan ragi ke pepaya yang sudah dihancurkan dan diaduk sampai merata.
3. Fermentasi pepaya didiamkan selama 72 jam atau 3 hari, sampai tidak muncul buihnya lagi.
4. Fermentasi pepaya diperas dan diambil airnya.
5. Air perasan ini kemudian didistilasi untuk mendapatkan ethanol.
5. Air perasan ini kemudian didistilasi untuk mendapatkan ethanol.
V. Hasil Pengamatan
Air pepaya yang dihasilkan : 900 ml
Air pepaya yang didestilasi : 300 ml
Hasil Etanol yang di destilasi : 11 ml etanol
a. Uji kualitatif
Dilakukan uji coba H2SO4 dan K2CrO4 : menghasilkan warna hijau
b. Uji kuantitatif
ρ = m/v
dimana :
m = (gelas ukur + etanol) - (gela sukur kosong)
v = volume etanol yang dimasukan
Diketahui :
m = 43.05 - 33.74 gram
v = 11 ml
Ditanya :
kadar etanol ?
Jawab :
ρ
= 9.31 / 11
= 0.84
Dari
hasil perhitungan yang didapat densitinya adalah 0.84 jika dilihat
pada tabel farmakope, kadar etanol untuk densiti 0,84 adalah sebesar 85%
VII. Pembahasan
Pada percobaan ini dilakukan
pembuatan etanol dari buah - buah yang sudah tidak terpakai. Buah pepaya
ini merupakan salah satu bahan yang potensial untuk dijadikan
menghasilkan bioetanol karena memiliki kadar gula yang tinggi.
Lalu difermentasi dengan mencampurkan
ragi pada pepaya yang sudah dihancurkan terlebih dahulu yang berfungsi
untuk menghasilkan etanol dari buah tersebut.
Setelah didiamkan selama kurang
lebih 3 hari, kemudian didestilasi untuk memisahkan etanol dengan air
pepayanya ternyata dari 300 ml yang didestilasi hanya mendapatkan 11 ml
etanol.
Kemudian di uji dengan asam sulfat
pekat dan K2CrO4 untuk menguji apakah ada etanol murni di dalam buah
yang difermentasi ternyata ada, karena uji ini menunjukan warna hijau
pada larutan.
Lalu ketika diuji dengan metode m/v dengan menggunakan gelas ukur didatkan kadar etanol sebesar 85%
VII. Kesimpulan
- Buah pepaya dapat menghasilkan etanol.
- Kadar etanol dari hasil fermentasi pepaya adalah sebesar 85%
IX. Daftar Pustaka
Bioetanol Jeli, Bahan Bakar Rumah Tangga Masa Depan
Bioetanol Jeli, Bahan Bakar Rumah Tangga Masa Depan
Selain dipergunakan untuk campuran bahan
bakar bensin premium, bioetanol dapat juga dipergunakan untuk bahan
bakar rumah tangga menggantikan minyak tanah (Robinson, 2006; Juliani,
2010; Laksitoresmi et al., 2011).
Namun penerapan bioetanol cair sebagai
bahan bakar rumah tangga masih perlu diwaspadai, mengingat bioetanol
cair memiliki sifat yang mudah menguap karena memiliki titik uap dan
titik nyala yang rendah yaitu 14 °C. Uap bioetanol tersebut berpotensi
menimbulkan bahaya kebakaran apabila terpapar panas.
Pengalaman di Brazil sebagai negara
dengan penggunaan bioetanol terbesar di dunia, menunjukkan bahwa
bioetanol dalam bentuk cair merupakan penyebab utama kebakaran di
negara tersebut. Oleh karena itu, bioetanol cair harus dimodifikasi
menjadi bentuk jeli yang diharapkan lebih aman dalam proses
pengangkutan maupun dalam penggunaannya.
Untuk membuat bioetanol jeli diperlukan gelling agent (pengental)
berupa tepung seperti keragenan (polisakarida dari ekstraksi alga
merah), kalsium asetat, xanthan gum ataupun carbopol EZ-3.
Pembuatan bioetanol jeli dapat dilakukan
sebagai berikut: (1) aduk sebanyak 1-5% kalsium asetat yang berbentuk
tepung dengan air sebanyak 20% dari jumlah bioetanol; (2) tambahkan 1
liter bioetanol berkadar 70-75% lalu diaduk; (3) tambahkan 5% natrium
hidroksida sebagai penyeimbang pH agar tingkat kemasaman mencapai 5-6,
kemudian daya aduk diperbesar minimal dengan kecepatan 2.500 rpm; (4)
dalam waktu 5 menit bioetanol jeli sudah terbentuk.
Dengan bietanol berbentuk jeli, bagi ibu
rumah tangga pekerjaan mengisi bahan bakar kompor menjadi lebih
praktis, tak perlu khawatir lagi bahan bakar akan tumpah karena
bentuknya padat. Di samping itu, bentuk kompor untuk bioetanol jeli
sangat sederhana (Gambar).
Bentuknya mirip kompor konvensional
karena pada kompor yang tidak bersumbu ini terdapat tempat meletakkan
bioetanol jeli. Ketika bioetanol jeli dikompor habis, api akan padam;
penambahan bioetanol jeli harus dilakukan saat api telah padam,
peletakan maupun penambahan jeli dapat dilakukan dengan menggunakan
sendok. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemakaian bioetanol jeli
lebih hemat daripada minyak tanah, daya bakar 200 g bioetanol jeli
setara dengan daya bakar 1 liter minyak tanah.
Afrika Selatan merupakan negara pertama yang telah menerapkan pemakaian bioetanol jeli secara meluas di masyarakatnya. Sejak tahun 2007 bioetanol jeli sudah akrab dipakai sebagai bahan bakar rumah tangga di sana, oleh karena itu Indonesia sebagai negara yang berlimpah “agro raw material ” dengan berbagai ragam bahan baku bioetanol, sudah saatnya untuk mulai mengembangkan bioetanol jeli.
Dengan bentuk bioetanol jeli berikut
bentuk kompor yang sederhana, diharapkan bioetanol dapat dimanfaatkan
sebagai bahan bakar alternatif rumah tangga oleh masyarakat luas,
menggantikan minyak tanah yang keberadaannya semakin langka dan mahal. (Juniaty towaha/Peneliti Balittri).
PTPN X Ekspor Perdana Bioetanol ke Filipina
Ekspor perdana bioetanol PTPN X
MOJOKERTO, Jaringnews.com - PT Perkebunan Nusantara X (PTPN X) melalui anak usahanya, PT Energi Agro Nusantara (Enero), Rabu (2/7/2014), melakukan ekspor perdana produk bioetanol ke Filipina. Perusahaan mendapat order awal 4.000 meter kubik bioetanol yang akan diekspor dalam dua tahap pengiriman.
"Ekspor perdana ini menjadi pemula dari upaya kami memacu kinerja pabrik bioetanol pada masa mendatang," ujar Dirut PTPN X, Subiyono dalam rilis yang diterima Jaringnews.com di Jakarta.
Meski bisa ekspor, Subiyono mengaku kecewa dengan respons pasar dalam negeri yang minim terhadap pemanfaatan bioetanol untuk menopang ketahanan energi. Pemerintah juga dinilai tidak serius mendorong pemanfaatan bahan bakar nabati seperti bioetanol dari tetes tebu (molases).
"Banyak orang bicara kedaulatan energi. Tapi mana kenyataannya? Negeri kita impor BBM terus, realisasi produksi minyak menurun, cadangan minyak bumi menipis, tapi ini ada potensi bioetanol yang sifatnya terbarukan dan ramah lingkungan kok malah tidak dioptimalkan," tutur Subiyono.
Saat ini, kapasitas produksi pabrik bioetanol di seluruh Indonesia mencapai 77.000 kiloliter per tahun. Sebenarnya, guna memenuhi kebutuhan bioetanol yang dicampur dengan minyak bumi untuk bahan bakar kendaraan, dibutuhkan sekitar 120.000 KL. "Jadi sebenarnya kalau semua kompak mendukung pemanfatan biofuel, kita kekurangan. Tapi karena minim dukungan, kami selaku produsen akhirnya memilih ekspor. Pemerintah tidak punya good will untuk mendorong pemanfaatan energi terbarukan," imbuh Dirut Enero Agus Budi Hartono yang juga wakil ketua Asosiasi Produsen Ethanol Indonesia.
Saat ini, PTPN X juga masih menjajaki kerja sama ekspor dengan sejumlah pihak lain di luar negeri, di antaranya dari Korea Selatan, Taiwan, dan Belanda. "Ada beberapa perusahaan yang sudah menyatakan minat terhadap produk bioetanol kami. Sudah ada pembicaraan. Semoga bisa segera terealisasi kontrak jual-belinya. Tapi sejujurnya saya kecewa karena niat bangun pabrik dulu adalah untuk menopang kedaulatan energi Indonesia, bukan untuk energi negara lain," kata Subiyono.
Filipina menjadi salah satu pasar yang prospektif karena negara itu sedang gencar mencanangkan mandatory blending BBM E 10 (kewajiban pencampuran 10% bioetanol dalam bahan bakar kendaraan). Untuk keperluan itu, Filipina mengimpor bioetanol. Peluang memasok pasar Filipina makin besar karena Thailand akan mengurangi ekspor bioetanolnya dan lebih untuk dipakai sendiri di dalam negeri akibat peningkatan mandatory blending dari E10 menjadi E20 (kewajiban pencampuran 20% bioetanol) di Thailand.
Subiyono mengatakan, ekspor ini menjadi bukti kualitas produk bioetanol yang dihasilkan oleh PTPN X. Pabrik bioetanol PTPN X menghasilkan bioetanol fuel grade dengan tingkat kemurnian minimal 99,5 persen yang sangat ramah lingkungan serta memiliki angka oktan yang tinggi yaitu RON (Research Octane Number) 120.
"Dalam ekspor ini juga disepakati adanya inspektor independen yang akan mengecek kualitas bioetanol kami, sehingga ini menjadi bukti bahwa produk bioetanol kami memang berkualitas dan punya daya saing tinggi. Tapi sayangnya dalam negeri tidak mendukung," ujarnya.
Bioetanol produksi anak usaha PTPN X ini dihasilkan dari pabrik seluas 6,5 hektar yang ada di Mojokerto, Jawa Timur. Pabrik tersebut mempunyai desain kapasitas produksi sebesar 30.000 kiloliter per tahun. Bioetanol dihasilkan dari pengolahan terhadap hasil samping industri gula atau yang biasa disebut sebagai tetes tebu (molasses).
Bahan baku yang dibutuhkan oleh pabrik itu adalah 120.000 ton molasses (tetes tebu) yang akan diambil dari pabrik gula milik PTPN X. Total investasinya adalah Rp 467,79 miliar dengan skema pendanaan terdiri atas hibah NEDO Jepang Rp 154 miliar dan dana PTPN X Rp 313,79 miliar.
Subiyono berharap, ke depan permintaan bioetanol akan semakin meningkat seiring besarnya kebutuhan bahan bakar nabati untuk energi. Bioetanol yang digunakan sebagai campuran bahan bakar kendaraan akan menjadi primadona seiring makin menipisnya cadangan bahan bakar berbasis minyak bumi. Kecenderungan menurunnya kemampuan lifting (realisasi produksi) minyak bumi Indonesia dan meningkatnya tingkat konsumsi bahan bakar merupakan alasan yang kuat untuk mengembangkan potensi bahan bakar nabati.
"Bahan bakar nabati (BBN) atau biofuel, termasuk di dalamnya adalah bioetanol dari tetes tebu berperan penting untuk menciptakan ketahanan dan kedaulatan energi. Kami mendorong bahan bakar nabati mendapat porsi yang lebih besar dalam pemanfaatan energi nasional," ujar Subiyono yang juga ketua Ikatan Ahli Gula Indonesia (Ikagi) tersebut.
Dia mencontohkan Brasil yang sukses mendorong pemanfaatan energi berbasis tebu. Sekitar 19 persen pasokan energi Brasil ditopang oleh bioetanol berbasis tebu.
Jika hal tersebut bisa dilaksanakan di Indonesia, maka akan tercipta keberlanjutan energi karena cadangan minyak bumi yang menipis bisa dikonversi oleh bahan bakar nabati yang mempunyai sifat terbarukan dan ramah lingkungan. "Kita juga bisa hemat devisa karena mengurangi impor BBM. Subsidi BBM yang ratusan triliun itu otomatis juga berkurang," imbuh Agus.
Memberi Nilai Tambah
Selain menopang ketahanan energi, pemanfaatan bioetanol juga akan meningkatkan kinerja industri gula di Tanah Air. Sehingga, pabrik-pabrik gula tidak bergantung pada pendapatan dari bisnis gula saja.
"Pemanfaatan tetes tebu untuk diolah menjadi bioetanol adalah bagian dari upaya memberi nilai tambah. Selama ini, pabrik gula hanya menjual tetes tebu ke pabrik lain yang mengembangkan produk turunannya seperti ke pabrik makanan. Sehingga, pabrik gula tidak mendapatkan nilai tambah secara optimal dari tebu yang diolahnya. Kalau kami olah sendiri menjadi bioetanol, lebih menguntungkan," jelasnya.
Dia menambahkan, sudah saatnya industri gula nasional bermetamorfosis menjadi industri berbasis tebu (sugarcane based industry) yang menggarap semua potensi tanaman tebu dari hulu hingga hilir. "Selain diolah jadi gula, tebu ini bisa menghasilkan listrik co generation dari pengelolaan ampas tebu, menjadi bioetanol dari tetes tebu, pupuk organik, pakan ternak, enzim dan asam amino , particle board, ragi roti, dan masih banyak lagi," paparnya.
Keuntungan yang didapatkan dari menggarap produk turunan non-gula itu bisa meningkatkan daya saing industri gula ke depan karena revenue yang didapat secara signifikan dapat menurunkan harga pokok produksi gula, tanpa mengabaikan misi utama untuk memenuhi kebutuhan gula nasional," jelas Subiyono.
Bioetanol
Bioetanol
Sejarah(Bio)Etanol telah digunakan manusia sejak zaman prasejarah sebagai bahan pemabuk dalam minuman beralkohol. Residu yang ditemukan pada peninggalan keramik yang berumur 9000 tahun dari China bagian utara menunjukkan bahwa minuman beralkohol telah digunakan oleh manusia prasejarah dari masa Neolitik.
Campuran dari (Bio)etanol yang mendekati kemrunian untuk pertama kali ditemukan oleh Kimiawan Muslim yang mengembangkan proses distilasi pada masa Kalifah Abbasid dengan peneliti yang terkenal waktu itu adalah Jabir ibn Hayyan (Geber), Al-Kindi (Alkindus) dan al-Razi (Rhazes). Catatan yang disusun oleh Jabir ibn Hayyan (721-815) menyebutkan bahwa uap dari wine yang mendidih mudah terbakar. Al-Kindi (801-873) dengan tegas menjelaskan tentang proses distilasi wine. Sedangkan (Bio)etanol absolut didapatkan pada tahun 1796 oleh Johann Tobias Lowitz, dengan menggunakan distilasi saringan arang.
Antoine Lavoisier menggambarkan bahwa (Bio)etanol adalah senyawa yang terbentuk dari karbon, hidrogen dan oksigen. Pada tahun 1808 Nicolas-Théodore de Saussure dapat menentukan rumus kimia etanol. Limapuluh tahun kemudian (1858), Archibald Scott Couper menerbitkan rumus bangun etanol. Dengan demikian etanol adalah salah satu senyawa kimia yang pertama kali ditemukan rumus bangunnya. Etanol pertama kali dibuat secara sintetis pada tahu 1829 di Inggris oleh Henry Hennel dan S.G.Serullas di Perancis. Michael Faraday membuat etanol dengan menggunakan hidrasi katalis asam pada etilen pada tahun 1982 yang digunakan pada proses produksi etanol sintetis hingga saat ini.
Pada tahun 1840 etanol menjadi bahan bakar lampu di Amerika Serikat, pada tahun 1880-an Henry Ford membuat mobil quadrycycle dan sejak tahun 1908 mobil Ford model T telah dapat menggunakan (bio)etanol sebagai bahan bakarnya. Namun pada tahun 1920an bahan bakar dari petroleum yang harganya lebih murah telah menjadi dominan menyebabkan etanol kurang mendapatkan perhatian. Akhir-akhir ini, dengan meningkatnya harga minyak bumi, bioetanol kembali mendapatkan perhatian dan telah menjadi alternatif energi yang terus dikembangkan.
Bioetanol, Etanol, Alkohol
Etanol disebut juga etil-alkohol atau alkohol saja, adalah alkohol yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, hal ini disebabkan karena memang etanol yang digunakan sebagai bahan dasar pada minuman tersebut, bukan metanol, atau grup alkohol lainnya. Sedangkan bioetanol adalah etanol (alkohol yang paling dikenal masyarakat) yang dibuat dengan fermentasi yang membutuhkan faktor biologis untuk prosesnya. Sebenarnya alkohol dalam ilmu kimia memiliki pengertian yang lebih luas lagi. Jadi untuk seterusnya, dalam tulisan ini penggunaan istilah alkohol tidak akan digunakan lagi untuk menghilangkan ambiguitas.
Rumus Kimia
(Bio)Etanol sering ditulis dengan rumus EtOH. Rumus molekul etanol adalah C2H5OH atau rumus empiris C2H6O atau rumus bangunnya CH3-CH2-OH. (Bio)Etanol merupakan bagian dari kelompok metil (CH3-) yang terangkai pada kelompok metilen (-CH2-) dan terangkai dengan kelompok hidroksil (-OH). Secara umum akronim dari (Bio)Etanol adalah EtOH (Ethyl-(OH))
<– Rumus Bangun
(Bio)Etanol(Bio)Etanol tidak berwarna dan tidak berasa tapi memilki bau yang khas. Bahan ini dapat memabukkan jika diminum. Karena sifatnya yang tidak beracun bahan ini banyak dipakai sebagai pelarut dalam dunia farmasi dan industri makanan dan minuman.
Sebagai Bahan Bakar
Saat ini (Bio)Etanol dipakai secara luas di Brazil dan Amerika Serikat. Semua kendaraan bermotor di Brazil, saat ini menggunakan bahan bakar yang mengandung paling sedikit kadar ethanol sebesar 20 %. Pertengahan 1980, lebih dari 90 % dari mobil baru, dirancang untuk memakai (Bio)Etanol murni.
Di Amerika Serikat, lebih dari 1 trilyun mil telah ditempuh oleh kendaraan bermotor yang menggunakan BBM dengan kandungan (Bio)Etanol sebesar 10 % dan kendaraan FFV (Flexible Fuel Vehicle) yang menggunakan BBM dengan kandungan 85 % (Bio)Etanol.
Penggunaan bioetanol sebagai bahan bakar, sebenarnya telah lama dikenal. Seperti telah disebutkan diatas bahwa pada tahun 1880-an Henry Ford membuat mobil quadrycycle dan sejak tahun 1908 mobil Ford model T telah dapat menggunakan (Bio)etanol sebagai bahan bakarnya.. Namun penggunaan bioetanol sebagai bahan bakar nabati kurang ditanggapi pada waktu tersebut, karena keberadaan bahan bakar minyak yang murah dan melimpah. Saat ini pasokan bahan bakar minyak semakin menyusut ditambah lagi dengan harga minyak dunia yang melambung membuat (Bio)Etanol semakin diperhitungkan.
(Bio)Etanol dapat digunakan pada kendaraan bermotor, tanpa mengubah mekanisme kerja mesin jika dicampur dengan bensin dengan kadar (Bio)Etanol lebih dari 99,5%. Perbandingan (Bio)Etanol pada umumnya di Indonesia baru penambahan 10% dari total bahan bakar. Pencampuran (Bio)Etanol absolut sebanyak 10 % dengan bensin (90%), sering disebut Gasohol E-10. Gasohol singkatan dari gasoline (bensin) dan (Bio)Etanol. (Bio)Etanol absolut memiliki angka oktan (ON) 117, sedangkan Premium hanya 87-88. Gasohol E-10 secara proporsional memiliki ON 92 atau setara Pertamax. Pada komposisi ini bioetanol dikenal sebagai octan enhancer (aditif) yang paling ramah lingkungan dan di negara-negara maju telah menggeser penggunaan Tetra Ethyl Lead (TEL) maupun Methyl Tertiary Buthyl Ether (MTBE).
Tak Laku Dalam Negeri, 4.000 Kubik Bioetanol Diekspor Ke Filipina
Tak Laku Dalam Negeri, 4.000 Kubik Bioetanol Diekspor Ke Filipina
Rabu, 2 Juli 2014 | 17:26 WIB
SEMARANG, KOMPAS.com - Sebanyak 4.000 kubik cairan energi alternatif jenis bioetanol hari ini, Rabu (2/2/2014) diekspor ke Filipina melaui pelabuhan Tanjung Mas Semarang. Ekspor tersebut disertai keprihatinan, karena energi alternatif tersebut justru tidak laku di negeri sendiri.
Bioetanol itu merupakan produk anak usaha PTPN X, yakni PT Energi Agro Nusantara (Enero). Bahan baku diambil dari tetes tebu selain ampas tebu.
Dirut PTPN X, Subiyono, mengaku kecewa dengan respons pasar dalam negeri yang minim terhadap pemanfaatan bioetanol untuk menopang ketahanan energi.
"Banyak orang bicara kedaulatan energi. Tapi mana kenyataannya? Negeri kita impor BBM terus, realisasi produksi minyak menurun, cadangan minyak bumi menipis, tapi ini ada potensi bioetanol yang sifatnya terbarukan dan ramah lingkungan malah tidak dioptimalkan," kata Subiyono.
Saat ini, pihaknya juga tengah menjajaki kerja sama ekspor dengan sejumlah pihak lain di luar negeri, di antaranya dari Korea Selatan, Taiwan, dan Belanda. "Yang saya heran, tidak ada satu pun dari dalam negeri yang melirik produk ini, akhirnya terpaksa kami ekspor," tambahnya.
Di Filipina, bioetanol memiliki prospek yang bagus, karena negara itu sedang gencar mencanangkan kewajiban pencampuran 10 persen bioetanol dalam bahan bakar kendaraan. Untuk keperluan itu, Filipina mengimpor bioetanol.
Peluang memasok pasar Filipina makin besar, karena Thailand akan mengurangi ekspor bioetanolnya dan akan digunakan sendiri seiring dengan implementasi mandatory blending dari E10 menjadi E20 (kewajiban pencampuran 20 persen bioetanol).
Bioetanol dihasilkan dari pabrik seluas 6,5 hektar yang ada di Mojokerto, Jawa Timur. Pabrik tersebut mempunyai desain kapasitas produksi sebesar 30.000 kiloliter per tahun. Bioetanol dihasilkan dari pengolahan terhadap hasil samping industri gula atau yang biasa disebut sebagai tetes tebu (molasses).
| Penulis | : Kontributor Surabaya, Achmad Faizal |
| Editor | : Bambang Priyo Jatmiko |
BBM Alternatif Dari Enceng Gondok
BBM Alternatif Dari Enceng Gondok
Sidoarjo, TV9 Surabaya -Dengan memanfaatkan tumbuhan enceng gondok yang hidup di rawa-rawa sebagai sumber daya alam hayati, seorang warga Candi, Sidoarjo melakukan trobosan dan inovasi dengan membuat bahan bakar motor. Seiring dengan rencana pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak. Selain murah dalam pembuatannya, tanaman gulma temuanya ini juga murah terhadap lingkungan dan irit dari segi ekonomis.
Bambang Permadi, warga desa Sumo Kali kecamatan Candi, Sidoarjo, melakukan terobosan dengan membuat bahan bakar alternatif dari bahan eceng gondok. Temuannya ini bisa di manfaatkan sebagai pengganti bahan bakar bensin untuk kendaraannya.
Tanaman yang biasa tumbuh di sungai dan sering dikeluhkan oleh masyarakat karena menyebabkan tumpukkan sampah itu oleh Bambang dijadikan sesuatu hal yang bermanfaat untuk semua orang. Berbekal dari ketelitian serta pengalaman di dunia mekanik, bapak dua anak ini berhasil menemukan suatu gas bakar yang fungsinya sama seperti bensin.
Bersama empat orang yang tergabung dalam Mandiri Energi, pria yang berprofesi sebagai montir ini berpikir bagaimana caranya bisa memfungsikan tanaman eceng gondok di sungai yang sering dikeluhkan oleh warga, agar bisa menjadi sesuatu yang berguna bagi masyarakat sekitar. Dengan dibantu empat temanya, akhirnya Bambang bisa menemukan bioetanol dari bahan sampah enceng gondok dengan cara difermentasikan terlebih dahulu.
Adapun cara pembuatannya, pertama tanaman eceng gondok dipotong kecil lantas dijemur sampai kering. Setelah kering, tanaman gulma ini direbus hingga mendidih dan dicampur dengan jamur yang terdapat pada roti, kemudian ditiriskan. Selesai ditiriskan, rebusan enceng gondok tersebut dibumbui dengan ragi tape kemudian disimpan dalam wadah selama tujuh hari agar adonan terfermentasi menjadi bioetanol.
Setelah tujuh hari, lantas adonan direbus kembali, namun dalam rebusan kali ini uap yang keluar dari rebusan tersebut disuling hingga empat kali supaya air dan uap bioetanol murni dapat terpisah. Hasil uap inilah yang dinamakan bioetanol yang dapat digunakan sebagai bahan bakar motor. Perbandingannya dari sekitar 50 kilogram eceng gondok dapat dihasilkan 1 liter bioetanol murni.
Perbandingan jarak tempuh kendaraan bermotor antara menggunakan bensin dengan bioetanol enceng gondok, hampir sama yaitu satu liter biotanol bisa menempuh jarak 50 kilometer. Bahkan, bisa lebih irit karena bioetanol ini semakin panas suhu saat penyulingan akan menghasilkan bioetanol yang bagus.
Sang penemu berkeinginan usaha kreatifnya ini ditiru oleh masyarakat supaya menghemat BBM dan juga menjaga lingkungan, karena pemakaian bahan bakar bioetanol ini tidak menghasilkan polusi yang berlebihan sehingga bisa dikatakan ramah terhadap lingkungan.
Langganan:
Postingan (Atom)
