Jumat, 29 Agustus 2014


Kebun Penghasil Bensin
Bangunan di tepi jalan alternat
if ke kota Sukabumi itu ters
embunyi di antara kebun singkong.
Tak ada yang mengira di gedung 3 kali lapang
an voli itu Soekaeni mengolah umbi singkong
menjadi 2.100 liter bioetanol setiap bulan. Dari ju
mlah itu 300 liter dijual ke pengecer premium
dan 800 liter ke pengepul industri kimia. Harg
a jual untuk kedua konsumen itu sama: Rp10.000
per liter, sehingga pensiunan PT Telkom itu
meraup omzet Rp21-juta per bulan. / /Bangunan di
tepi jalan alternatif ke kota
Sukabumi itu tersembunyi di an
tara kebun singkong. Tak ada yang
mengira di gedung 3 kali lapa
ngan voli itu Soekaeni mengol
ah umbi singkong menjadi 2.100
liter bioetanol setiap bulan. Dari
jumlah itu 300 liter
dijual ke pengecer premium dan 800 liter ke
pengepul industri kimia. Harga jual untuk
kedua konsumen itu sama: Rp10.000 per liter,
sehingga pensiunan PT Telkom itu meraup
omzet Rp21-juta per bulan. / Biaya untuk
memproduksi seliter bioetanol berbahan baku
singkong berkisar Rp3.400- Rp4.000. Satu liter
bioetanol terbuat dari 6,5 kg si
ngkong. Dari perniagaan bioetanol
pria kelahiran 6 September
1950 itu meraup laba bersih Rp12-juta per
bulan. Selain singkong,
sekarang ia juga
memanfaatkan molase alias limbah tetes tebu
sebagai bahan baku. Bioetanol produksi Soekaeni
itulah yang dimanfaatkan sebagai campuran prem
ium oleh para tukang ojek di Nyangkowek,
Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, untuk ba
han bakar kendaraan bermotor. Satu liter
premium diberi campuran 0,1 liter bioetanol. Mesk
i harganya lebih mahal ketimbang premium,
mereka tetap membelinya karena kinerja mesi
n lebih bagus dan konsumsi bahan bakar lebih
hemat. Setahun terakhir popularitas bioetanol a
lias etanol yang dipros
es dari tumbuhan dan
biodiesel atau minyak untuk mesi
n diesel dari tanaman memang
meningkat. Keduanya-bioetanol
dan biodiesel-merupakan bahan bakar nabati. Bers
amaan dengan tren itu, bermunculan produsen
bioetanol skala rumahan. Menurut Eka Bukit, pr
odusen bioetanol, kriteria skala rumahan bila
produksi maksimal 10.000 liter per hari. Saat ini
volume produksi skala rumahan beragam, dari
30 liter hingga 2.000 liter per hari. Selain Soek
aeni di Cicurug, Sukabumi, masih ada Sugimin
Sumoatmojo. Warga Bekonang, Kabupaten Sukoharj
o, Jawa Tengah, itu mengolah 1.500 molase
alias limbah pabrik gula menjadi 500 liter bi
oetanol per hari. Untuk menghasilkan 1 liter
bioetanol pria kelahiran 31 Desember 1947 itu memerlukan 3 liter molase. Ia mengutip laba
Rp2.500 per liter sehingga keuntungan bersih mencapai Rp1.250.000 per hari. Selama sebulan,
mesin bekerja rata-rata 30 hari. Dengan demi
kian total jenderal volume produksi mencapai
15.000 liter yang memberikan untung bersih Rp37,5-
juta per bulan. Di Bekonang dan sekitarnya,
produsen bioetanol skala rumahan menjamur
. Menurut Sabaryono, ketua Paguyuban Perajin
Bioetanol Sukoharjo, total produsen
mencapai 145 orang. /*Bahan
berlimpah*/ Daftar produsen
bioetanol skala rumahan ki
an panjang jika ditulis sa
tu per satu. Mereka be
rtebaran di Sukoharjo,
Pati, (Jawa Tengah), Natar (Lampung), Sukabumi (J
awa Barat), Minahasa (Sulawesi Utara), dan
Cilegon (Banten). Para produsen kecil itu menge
ndus peluang bisnis bioetanol. Harap mafhum,
bahan baku melimpah, proses produksi relatif m
udah, dan pasar terbentang menjadi daya tarik
bagi mereka. Menurut Dr Arif Yudiarto, perise
t bioetanol di Balai Besar Teknologi Pati, ada 3
kelompok tanaman sumber bioetanol. Ketiganya
adalah tanaman menga
ndung pati, bergula, dan
serat selulosa. Beberapa tanaman yang sohor se
bagai penghasil bioetanol
adalah aren dengan
potensi produksi 40.000 liter per
ha per tahun, jagung (6.000 lite
r), singkong (2.000 liter), biji
sorgum (4.000 liter), jerami padi, dan ubijalar (7
.800 liter). Pada prinsipnya pembuatan bioetanol
melalui fermentasi untuk memecah protein dan
destilasi alias penyulingan yang relatif mudah
sehingga gampang diterapkan. Berbeda dengan pros
es produksi biodiesel yang harus melampaui
teknologi esterifikasi dan
transesterifikasi. Apal
agi sebetulnya bioetanol
bukan barang baru bagi
masyarakat Indonesia. Pada zaman kerajaan Si
ngosari-700 tahun silam-masyarakat Jawa sudah
mengenal ciu alias bioetanol dari tetes tebu. Itu
berkat tentara Kubilai Khan yang mengajarkan
proses produksi. Lalu pasar? Eka Bukit ya
ng mengolah nira aren kewalahan melayani
permintaan bertubi-tubi. Setidaknya 275.000 liter
permintaan rutin per bulan tak mampu ia
pasok. Permintaan itu datang dari industri farmasi
dan kimia. ‘Pasarnya luar biasa besar,’ ujar
alumnus Carlton University itu. Oleh karena
itu Eka tengah membangun pabrik pengolahan
bioetanol di Kabupaten Lebak, Banten. Menuru
t Indra Winarno, direktur PT Molindo Raya
Industrial produsen di Malang, Jawa Timur,
permintaan etanol, ‘Tak terbatas.’
Pasok langsung
Sebagai substitusi bahan bakar premium, permin
taan bioetanol sangat tinggi. Mari berhitung,
‘Kebutuhan bensin nasional mencapai 17,5- miliar
per tahun,’ ujar Ir Yuttie Nurianti, manajer
Pengembangan Produk Baru Pertamina. Yuttie me
nuturkan 30% dari tota
l kebutuhan itu impor.
Seperti diamanatkan dalam Peraturan
Pemerintah No 5/2006 dalam kurun 2007-2010,
pemerintah menargetkan mengganti 1,48-miliar liter
bensin dengan bioetanol lantaran kian
menipisnya cadangan minyak bumi. Persentase
itu bakal meningkat menjadi 10% pada 2011-
2015, dan 15% pada 2016-2025. Pada kurun pert
ama 2007-2010 selama 3 tahun pemerintah
memerlukan rata-rata 30.833.000 lite
r bioetanol per bulan. Dari total kebutuhan itu cuma
137.000 liter bioetanol setiap bulan ya
ng terpenuhi atau 0,4%. Itu bera
rti setiap bulan pemerintah
kekurangan pasokan 30.696.000 liter
bioetanol untuk bahan bakar.
Pangsa pasar yang sangat
besar belum terpenuhi lantaran
saat ini baru PT Molindo
Raya Industrial yang memasok
Pertamina. Dari produksi 150.000 liter, Mo
lindo memasok 15.000 liter
per hari. Molindo
menjual biopremium melalui Pe
rtamina Rp5.000 per liter. M
ungkinkah produsen skala rumahan
memasok Pertamina? Kepada wartawan /Trubus
/ Imam Wiguna, Yuttie mengatakan, ‘Pertamina
menerima berapa pun pasokan bioetanol dari pi
hak swasta. Yang penti
ng memenuhi syarat.’
Syarat yang dimaksud sang manajer adalah berk
adar etanol minimal 99,5%
. Rata-rata bioetanol
hasil sulingan produsen skala rumahan berkadar
90-95%. Agar syarat itu tercapai, produsen
dapat mencelupkan penyerap seperti batu gamping dan zeolit sehingga kadar etanol melonjak
signifikan (baca: /Bioetanol 99,5% Murnikan Saja
dengan Gamping/ halaman 24-25). Selain itu,
pemasok harus mengantongi izin usaha niaga ba
han bakar nabati dari
Menteri Energi dan
Sumber Daya Mineral. Ketua Tim Nasional Bahan
Bakar Nabati Ir Alhilal Hamdi berupaya agar
hubungan Pertamina-produsen skala kecil terjalin
dengan mudah. ‘Kami akan memfasilitasi agar
tercipta mekanisme paling mudah bagi industri
kecil yang memasok Pertamina tanpa perantara.
Perantara itu kan biaya. Atau bisa juga langsu
ng dikirim ke SPBU kare
na jaringan Pertamina
luas,’ ujar mantan menteri Tenaga Kerja da
n Transmigrasi itu (baca
: Produsen Boleh Oplos
Bioetanol halaman 18). Tentang harga beli, Yutti
e mengatakan, ‘Harga be
li yang ditawarkan
produsen harus kompetitif.’ Saat
ini Pertamina membeli 1 liter bioetanol Rp5.000. Toh, produsen
skala rumahan pun diberi kesempatan mengoplos
alias mencampur bi
oetanol dan premium
sendiri untuk dipasarkan. Produsen yang mengopl
os tak perlu takut di
cokok aparat karena
memang dilindungi undang-undang. Yang menggembirak
an bioetanol untuk bahan bakar bebas
cukai. Itu bukti bahwa pemerintah memang se
rius mengembangkan bioetanol sebagai sumber
energi terbarukan.
Langit biru
Penggunaan bioetanol sebagai bahan bakar juga
berdampak positif. Banyak riset sahih yang
membuktikannya. Dr Prawoto kepala Balai
Termodinamika, Motor, dan Propulsi, Badan
Pengkajian dan Penerapan Teknologi,
misalnya, membuktikan kinerj
a mesin kian bagus setelah
diberi campuran bioetanol. Riset serupa di
tempuh oleh Prof Dr Ir H Djoko Sungkono dari
Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Hasil penelitian Prawoto
menunjukkan, dengan campuran bioetanol konsumsi
bahan bakar semakin efisien. Mobil E20
alias yang diberi campuran bioetanol 20%, pada kecepatan 30 km per jam, konsumsi bahan bakar
20% lebih irit ketimbang mobil berbahan bakar be
nsin. Jika kecepatan 80 km per jam, konsumsi
bahan bakar 50% lebih irit. Duduk
perkaranya? Pembakaran makin
efisien karena etanol lebih
cepat terbakar ketimbang bensin murni. Pant
as semakin banyak campuran bioetanol, proses
pembakaran kian singkat. Pembakaran sempurna
itu gara-gara bilangan
oktan bioetanol lebih
tinggi daripada bensin. Nilai oktan bensin cu
ma 87-88; bioetanol 117. Bila kedua bahan itu
bercampur, meningkatkan nilai oktan. Contoh pe
nambahan 3% bioeta
nol mendongkrak nilai
oktan 0,87. ‘Kadar 5% etanol meningkatkan
92 oktan menjadi 94
oktan,’ ujar Sungkono,
alumnus University of New South Wales Sydne
y. Makin tinggi bilangan oktan, bahan bakar
makin tahan untuk tidak terbakar sendiri sehing
ga menghasilkan kestabilan proses pembakaran
untuk memperoleh daya yang lebih stabil. Ca
mpuran bioetanol 3% saja, mampu menurunkan
emisi karbonmonoksida menjadi hanya 1,35%.
Bandingkan bila kendaraan memanfaatkan
premium, emisi senyawa karsinogenik alia
s penyebab kanker itu 4,51%. Nah, ketika kadar
bioetanol ditingkatkan, emisi itu makin turun. Pr
ogram langit biru yang dicanangkan pemerintah
pun lebih mudah diwujudkan. Dampaknya, masyarakat
kian sehat. Saat ini campuran bioetanol
dalam premium untuk mobil konvensional maksimal
10% atau E10. Bahka
n di Brasil, mobil
konvensional menggunakan E20 alias campuran bioe
tanol 20% tanpa memodifikasi mesin.
Penggunaan E100 atau E80 pada mobil konvensional
tanpa modifikasi mesi
n tidak disarankan
karena khawatir merusak mesin. Namun, kini munc
ul flexi car alias kenda
raan fleksibel yang
dapat menggunakan bioetanol hingga 100% atau
premium 100% pada waktu yang lain. Di
Amerika Serikat saat ini terdapat 5-juta flexi car dengan penambahan 1- juta kendaraan per
tahun.
Berebut bahan
Meski banyak keistimewaan, bisnis bioetanol
bukannya tanpa hambatan. Salah satu aral
penghadang bisnis itu adalah te
rbatasnya pasokan bahan baku. Saat
ini sebagian
besar produsen
mengandalkan molase sebagai bahan baku. Padaha
l, limbah pengolahan gul
a itu juga dibutuhkan
industri lain seperti pabrik kecap dan penyeda
p rasa. Bahkan, sebagian lagi di antaranya
diekspor. Indra Winarno mengatakan molase me
njadi emas hitam belakangan ini. Dampaknya,
hukum ekonomi pun bicara. Begitu banyak permintaan, harga beli bahan baku pun membubung
sehingga margin produsen bioetanol menyusut.
Beberapa produsen melirik singkong sebagai
alternatif. Banyak yang membenamkan invest
asi di Lampung karena provinsi itu penghasil
singkong terbesar di tanahair. Kehadiran mereka
ternyata mendongkrak harga ubikayu di sana.
‘Dulu harganya di bawah Rp300 per kg. Sekarang
lebih dari Rp400,’ uj
ar Donny Winarno, vice
president PT Molindo Raya Industrial. Kenaikan ha
rga itu berkah bagi para
pekebun. Di sisi lain
menyulitkan para produsen. ‘Saya berharap pemerintah mengeluarkan kebijakan yang juga
melindungi produsen,’ ujar alumnus University of
California itu. Jika hambatan teratasi,
produsen silakan meraup rupiah dari tetesan bi
oetanol. Soalnya, pasar bioetanol-sebagai bahan
bakar-memang sangat besar karena populasi kendaraan bermotor meningkat. Menurut Gabungan
Industri Kendaraan Bermotor Indonesia, penj
ualan mobil meningkat rata-rata 53.400 unit per
tahun. Pemilik mobil tak perlu memodifikasi
mesin untuk menggunakan campuran bioetanol.
Pasar itu kian luas dan membaik ketika subs
idi bahan bakar yang ni
lainya Rp1.681,25 per liter
itu dicabut. Dengan kebutuhan 17-miliar liter,
pemerintah menggelontorkan dana Rp28,6-triliun
per tahun. Terlepas dari urusan bahan bakar, pelu
ang pasar bioetanol tetap besar. Itu lantaran
banyak industri yang memerlukannya. Sekada
r menyebut contoh, industri bumbu masak, bedak,
cat, farmasi, minuman berkarbonasi, obat batu
k, pasta gigi dan kumur, parfum, serta rokok
memerlukannya. Bahkan industri tinta pun perlu bioe
tanol. Produk itu berfaed
ah sebagai pelarut,
bahan pembuatan cuka, dan asetaldehida. Menurut
Ir Agus Purnomo, ketua Asosiasi Spiritus dan
Etanol Indonesia (Asendo), kebutuhan etanol un
tuk industri rata-rata 140
-juta liter per tahun.
Investasi marak
Dengan segala kelebihan di at
as, penggunaan bioetanol agaknya
kian mendesak. Bukan hanya
karena industri itu menjad
i lokomotif pengembangan ekonom
i dan menciptakan lapangan
pekerjaan. Namun, juga lantaran harga minya
k bumi yang diperkirakan melambung hingga
US$100 per barel (1 barel = 117,35 liter) pada
tahun mendatang. Itulah sebabnya, Johan Bukit
produsen bioetanol memperkirakan, ‘Siapa
pun presiden terpilih, pada 2009 sulit
mempertahankan subsidi bahan bakar.’ Kondisi
itu mendorong banyak investor membenamkan
modal untuk membangun kilang hijau alias
energi terbarukan. Jo
han Arnold Manonutu,
misalnya, menjalin kemitraan dengan masyarakat
Minahasa Selatan, Sulawesi Utara. Anak
tunggal mantan Menteri Peneranga
n zaman Bung Karno itu menggel
ontorkan dana jutaan rupiah
untuk membeli 5 unit mesin produksi bioetanol
berkapasitas masing-masing 200 l/hari. Mesin-
mesin itu ‘dipinjamkan’ kepada warga Desa Menara, Kecamatan Amurang Timur, Kabupaten
Minahasa Selatan. Satu unit mesin dikelola 3
orang. Johan menampung hasil produksi mereka
yang mencapai 1.000 liter sehari, dengan harga
Rp6.000 per liter. ‘Harga itu jauh lebih tinggi
dibandingkan dengan harga cap tikus yang hanya
Rp300 per liter,’ ujarnya
. Cap tikus yang ia
maksud adalah sulingan nira aren berkadar
etanol 35% yang lazim digunakan untuk bahan
minuman keras. Johan memasarkan
etanol itu ke beberapa ruma
hsakit untuk sterilisasi. Dengan
harga jual Rp16.000-Rp17.000 per liter, omzetnya R
p16-juta-Rp17-juta per
hari. Edy Darmawan
dari PT Indo Acidatama berencana membangun pabr
ik pengolahan berkapas
itas 50-juta liter per
tahun di Lampung. Begitu juga
Sugar Group Company (SGC), pemilik 3 pabrik gula raksasa
yang mendirikan pabrik berkapasitas sama di
Lampung Tengah. Mereka mengendus peluang
besar dengan membangun kilang hijau yang
ramah lingkungan. Pangsa pasar terbentang luas,
harga memadai, bahkan dapat digunakan untuk keperl
uan sendiri. Itulah bioe
tanol, ‘bensin’ dari
tetumbuhan. Ingin membangun kilang di halaman rumah agar mencecap manisnya berbisnis
bioetanol?
(Sardi Duryatmo/Peliput: Andretha Helmin
a, Imam Wiguna, Lani Marliani, & Nesia
Artdiyasa)
Sumber: Trubus Majalah Pertanian Indonesia :
http://www.trubus-online.com Online version:
http://www.trubusonline.com/mod.php?mod=publis
her&op=viewarticle&cid=1&artid=80

Tidak ada komentar:

Posting Komentar