Selasa, 26 Agustus 2014

PTPN X Ekspor Perdana Bioetanol ke Filipina

Ekspor perdana bioetanol PTPN X
Meski Bisa Ekspor, PTPN X Kecewa karena Dalam Negeri Tak Responsif.
MOJOKERTO, Jaringnews.com - PT Perkebunan Nusantara X (PTPN X) melalui anak usahanya, PT Energi Agro Nusantara (Enero), Rabu (2/7/2014), melakukan ekspor perdana produk bioetanol ke Filipina. Perusahaan mendapat order awal 4.000 meter kubik bioetanol yang akan diekspor dalam dua tahap pengiriman.

"Ekspor perdana ini menjadi pemula dari upaya kami memacu kinerja pabrik bioetanol pada masa mendatang," ujar Dirut PTPN X, Subiyono dalam rilis yang diterima Jaringnews.com di Jakarta.

Meski bisa ekspor, Subiyono mengaku kecewa dengan respons pasar dalam negeri yang minim terhadap pemanfaatan bioetanol untuk menopang ketahanan energi. Pemerintah juga dinilai tidak serius mendorong pemanfaatan bahan bakar nabati seperti bioetanol dari tetes tebu (molases).

"Banyak orang bicara kedaulatan energi. Tapi mana kenyataannya? Negeri kita impor BBM terus, realisasi produksi minyak menurun, cadangan minyak bumi menipis, tapi ini ada potensi bioetanol yang sifatnya terbarukan dan ramah lingkungan kok malah tidak dioptimalkan," tutur Subiyono.

Saat ini, kapasitas produksi pabrik bioetanol di seluruh Indonesia mencapai 77.000 kiloliter per tahun. Sebenarnya, guna memenuhi kebutuhan bioetanol yang dicampur dengan minyak bumi untuk bahan bakar kendaraan, dibutuhkan sekitar 120.000 KL. "Jadi sebenarnya kalau semua kompak mendukung pemanfatan biofuel, kita kekurangan. Tapi karena minim dukungan, kami selaku produsen akhirnya memilih ekspor. Pemerintah tidak punya good will untuk mendorong pemanfaatan energi terbarukan," imbuh Dirut Enero Agus Budi Hartono yang juga wakil ketua Asosiasi Produsen Ethanol Indonesia.

Saat ini, PTPN X juga masih menjajaki kerja sama ekspor dengan sejumlah pihak lain di luar negeri, di antaranya dari Korea Selatan, Taiwan, dan Belanda. "Ada beberapa perusahaan yang sudah menyatakan minat terhadap produk bioetanol kami. Sudah ada pembicaraan. Semoga bisa segera terealisasi kontrak jual-belinya. Tapi sejujurnya saya kecewa karena niat bangun pabrik dulu adalah untuk menopang kedaulatan energi Indonesia, bukan untuk energi negara lain," kata Subiyono.

Filipina menjadi salah satu pasar yang prospektif karena negara itu sedang gencar mencanangkan mandatory blending BBM E 10 (kewajiban pencampuran 10% bioetanol dalam bahan bakar kendaraan). Untuk keperluan itu, Filipina mengimpor bioetanol. Peluang memasok pasar Filipina  makin besar karena Thailand akan mengurangi ekspor bioetanolnya dan lebih untuk dipakai sendiri di dalam negeri akibat peningkatan mandatory blending dari E10 menjadi E20 (kewajiban pencampuran 20% bioetanol) di Thailand.

Subiyono mengatakan, ekspor ini menjadi bukti kualitas produk bioetanol yang dihasilkan oleh PTPN X. Pabrik bioetanol PTPN X menghasilkan bioetanol fuel grade dengan tingkat kemurnian minimal 99,5 persen yang sangat ramah lingkungan serta memiliki angka oktan yang tinggi yaitu RON (Research Octane Number) 120.

"Dalam ekspor ini juga disepakati adanya inspektor independen yang akan mengecek kualitas bioetanol kami, sehingga ini menjadi bukti bahwa produk bioetanol kami memang berkualitas dan punya daya saing tinggi. Tapi sayangnya dalam negeri tidak mendukung," ujarnya.

Bioetanol produksi anak usaha PTPN X ini dihasilkan dari pabrik seluas 6,5 hektar yang ada di Mojokerto, Jawa Timur. Pabrik tersebut mempunyai desain kapasitas produksi sebesar 30.000 kiloliter per tahun. Bioetanol dihasilkan dari pengolahan terhadap hasil samping industri gula  atau yang biasa disebut sebagai tetes tebu (molasses).

Bahan baku yang dibutuhkan oleh pabrik itu adalah 120.000 ton molasses (tetes tebu) yang akan diambil dari pabrik gula milik PTPN X. Total investasinya adalah Rp 467,79 miliar dengan skema pendanaan terdiri atas hibah NEDO Jepang Rp 154 miliar dan dana PTPN X Rp 313,79 miliar.

Subiyono berharap, ke depan permintaan bioetanol akan semakin meningkat seiring besarnya kebutuhan bahan bakar nabati untuk energi. Bioetanol yang digunakan sebagai campuran bahan bakar kendaraan akan menjadi primadona seiring makin menipisnya cadangan bahan bakar berbasis minyak bumi. Kecenderungan menurunnya kemampuan lifting (realisasi produksi) minyak bumi Indonesia dan meningkatnya tingkat konsumsi bahan bakar merupakan alasan yang kuat untuk mengembangkan potensi bahan bakar nabati.

"Bahan bakar nabati (BBN) atau biofuel, termasuk di dalamnya adalah bioetanol dari tetes tebu berperan penting untuk menciptakan ketahanan dan kedaulatan energi. Kami mendorong bahan bakar nabati mendapat porsi yang lebih besar dalam pemanfaatan energi nasional," ujar Subiyono yang juga ketua Ikatan Ahli Gula Indonesia (Ikagi) tersebut.

Dia mencontohkan Brasil yang sukses mendorong pemanfaatan energi berbasis tebu. Sekitar 19 persen pasokan energi Brasil ditopang oleh bioetanol berbasis tebu.

Jika hal tersebut bisa dilaksanakan di Indonesia, maka akan tercipta keberlanjutan energi karena cadangan minyak bumi yang menipis bisa dikonversi oleh bahan bakar nabati yang mempunyai sifat terbarukan dan ramah lingkungan. "Kita juga bisa hemat devisa karena mengurangi impor BBM. Subsidi BBM yang ratusan triliun itu otomatis juga berkurang," imbuh Agus.

Memberi Nilai Tambah

Selain menopang ketahanan energi, pemanfaatan bioetanol juga akan meningkatkan kinerja industri gula di Tanah Air. Sehingga, pabrik-pabrik gula tidak bergantung pada pendapatan dari bisnis gula saja.

"Pemanfaatan tetes tebu untuk diolah menjadi bioetanol adalah bagian dari upaya memberi nilai tambah. Selama ini, pabrik gula hanya menjual tetes tebu ke pabrik lain yang mengembangkan produk turunannya seperti ke pabrik makanan. Sehingga, pabrik gula tidak mendapatkan nilai tambah secara optimal dari tebu yang diolahnya. Kalau kami olah sendiri menjadi bioetanol, lebih menguntungkan," jelasnya.
  
Dia menambahkan, sudah saatnya industri gula nasional bermetamorfosis menjadi industri berbasis tebu (sugarcane based industry) yang menggarap semua potensi tanaman tebu dari hulu hingga hilir. "Selain diolah jadi gula, tebu ini bisa menghasilkan listrik co generation dari pengelolaan ampas tebu, menjadi bioetanol dari tetes tebu, pupuk organik, pakan ternak, enzim dan asam amino , particle board, ragi roti, dan masih banyak lagi," paparnya.

Keuntungan yang didapatkan dari menggarap produk turunan non-gula itu bisa meningkatkan daya saing industri gula ke depan karena revenue yang didapat secara  signifikan dapat menurunkan  harga pokok produksi  gula, tanpa mengabaikan misi utama untuk memenuhi kebutuhan gula nasional," jelas Subiyono.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar