Liputan6.com, Karanganyar: Tumpukan sampah lazim ditemukan di
pasar-pasar tradisional. Sampah seperti sayur, buah hingga cangkang
kelapa, biasanya memang tidak diambil pemulung hingga kerap menumpuk.
Mengganggu pemandangan, berbau busuk, dan bisa menjadi sumber penyakit.
Prihatin
dengan kondisi ini, warga Doplang, Karangpandan, Kabupaten Karanganyar,
Jawa Tengah, berupaya memanfaatkannya dengan mengubah menjadi bahan
bakar nabati. Mereka melakukannya dengan cara sederhana. Sampah busuk
harus dihancurkan lebih dulu agar mudah dibusukkan dengan bakteri
pembusuk. Air dari rajangan sampah kemudian difermentasi. Saat disuling,
zat-zat yang dibutuhkan menguap masuk ke dalam pendingin untuk diubah
menjadi bioetanol.
Hasil bioetanol dapat langsung dimanfaatkan
sebagai pengganti minyak tanah. Bahkan, bioetanol memeiliki kelebihan
lebih hemat, lebih cepat panas dan tidak mengeluarkan asap sehingga
lebih ramah lingkungan.
Bioetanol sampah juga bisa dimanfaatkan
sebagai pengganti bensin. Namun harus dilakukan dua kali penyulingan
sehingga kadar bioetanolnya menjadi lebih tinggi, yaitu 99 hingga 100
persen. Harganya juga lebih murah, hanya Rp 3.000 per liter.(ANS/Wiwik
Susilo)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar