Bioetanol Jeli, Bahan Bakar Rumah Tangga Masa Depan
Selain dipergunakan untuk campuran bahan
bakar bensin premium, bioetanol dapat juga dipergunakan untuk bahan
bakar rumah tangga menggantikan minyak tanah (Robinson, 2006; Juliani,
2010; Laksitoresmi et al., 2011).
Namun penerapan bioetanol cair sebagai
bahan bakar rumah tangga masih perlu diwaspadai, mengingat bioetanol
cair memiliki sifat yang mudah menguap karena memiliki titik uap dan
titik nyala yang rendah yaitu 14 °C. Uap bioetanol tersebut berpotensi
menimbulkan bahaya kebakaran apabila terpapar panas.
Pengalaman di Brazil sebagai negara
dengan penggunaan bioetanol terbesar di dunia, menunjukkan bahwa
bioetanol dalam bentuk cair merupakan penyebab utama kebakaran di
negara tersebut. Oleh karena itu, bioetanol cair harus dimodifikasi
menjadi bentuk jeli yang diharapkan lebih aman dalam proses
pengangkutan maupun dalam penggunaannya.
Untuk membuat bioetanol jeli diperlukan gelling agent (pengental)
berupa tepung seperti keragenan (polisakarida dari ekstraksi alga
merah), kalsium asetat, xanthan gum ataupun carbopol EZ-3.
Pembuatan bioetanol jeli dapat dilakukan
sebagai berikut: (1) aduk sebanyak 1-5% kalsium asetat yang berbentuk
tepung dengan air sebanyak 20% dari jumlah bioetanol; (2) tambahkan 1
liter bioetanol berkadar 70-75% lalu diaduk; (3) tambahkan 5% natrium
hidroksida sebagai penyeimbang pH agar tingkat kemasaman mencapai 5-6,
kemudian daya aduk diperbesar minimal dengan kecepatan 2.500 rpm; (4)
dalam waktu 5 menit bioetanol jeli sudah terbentuk.
Dengan bietanol berbentuk jeli, bagi ibu
rumah tangga pekerjaan mengisi bahan bakar kompor menjadi lebih
praktis, tak perlu khawatir lagi bahan bakar akan tumpah karena
bentuknya padat. Di samping itu, bentuk kompor untuk bioetanol jeli
sangat sederhana (Gambar).
Bentuknya mirip kompor konvensional
karena pada kompor yang tidak bersumbu ini terdapat tempat meletakkan
bioetanol jeli. Ketika bioetanol jeli dikompor habis, api akan padam;
penambahan bioetanol jeli harus dilakukan saat api telah padam,
peletakan maupun penambahan jeli dapat dilakukan dengan menggunakan
sendok. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemakaian bioetanol jeli
lebih hemat daripada minyak tanah, daya bakar 200 g bioetanol jeli
setara dengan daya bakar 1 liter minyak tanah.
Afrika Selatan merupakan negara pertama yang telah menerapkan pemakaian bioetanol jeli secara meluas di masyarakatnya. Sejak tahun 2007 bioetanol jeli sudah akrab dipakai sebagai bahan bakar rumah tangga di sana, oleh karena itu Indonesia sebagai negara yang berlimpah “agro raw material ” dengan berbagai ragam bahan baku bioetanol, sudah saatnya untuk mulai mengembangkan bioetanol jeli.
Dengan bentuk bioetanol jeli berikut
bentuk kompor yang sederhana, diharapkan bioetanol dapat dimanfaatkan
sebagai bahan bakar alternatif rumah tangga oleh masyarakat luas,
menggantikan minyak tanah yang keberadaannya semakin langka dan mahal. (Juniaty towaha/Peneliti Balittri).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar